HOME
NASIONAL
DUNIA
EKSKLUSIF
KIAT
MEGAPOLITAN
GOSIP
AGENDA
PROFIL
SURAT
   Indeks Surat
Image Image Image
Biaya Pembuatan SIM C Di Bekasi Kok Mahal, Ya?
(08-06-2005 | 16:02:32)
Image Image Image
Pembodohan Anak Bangsa
(16-07-2003 | 15:05:41)
Image Image Image
Mahasiswa di Depok Tak Ber-KTP
(23-06-2003 | 17:33:29)
Image Image Image
Jangan Percaya Harga Makanan di Ragunan
(08-06-2003 | 16:30:03)
Image Image Image
Tindak Anggota Polri Arogan
(--Kamis, 22 | ei 2003, 16:56:22 WI)
Image Image Image
Soal GAM, Pemerintah Harus Arif
(14-05-2003 | 19:50:18)
Image Image Image
Maju Terus Inul!
(--Jumat, 9 M | i 2003, 20:10:24 WIB)
Image Image Image
Pernyataan Oma Irama Tak Beralasan
(30-04-2003 | 16:31:18)
Image Image Image
Kecaman Oma Tidak Pada Tempatnya
(24-04-2003 | 16:19:45)
Image Image Image
Peron Stasiun KA Bagaikan Pasar Terbuka
(05-04-2003 | 12:33:29)
   CARI DATA
Image
Minggu, 19 November 2017 | 19:06:02 WIB
Image
Surat Terbuka
Image
Kecaman Oma Tidak Pada Tempatnya
Madi-Depok Timur
Jika dulu orang selalu mencibir bila mendengar nama dangdut, kini keadaannya sudah sangat jauh berbeda. Para pemusik dangdut pendahulu telah bekerja keras untuk menaikkan derajatnya, dan kini dangdut diterima berbagai kalangan. Tak terkecuali golongan jet-set pun kini menyukai kehadirannya. Maka tak heran, penyanyi yang semula beraliran rock ikut beralih ke dangdut.

Seperti halnya dengan penyanyi yang satu ini, namanya langsung mencuat berkat goyangannya, ia olah tubuhnya sedemikian rupa. Siapa lagi kalau bukan Inul Daratista, dengan "Goyang Ngebor"-nya yang diproklamirkan Eko Patrio.

Orang pada waktu itu hanya melihat Inul Daratista sebatas pada goyangannya. Memang untuk goyangannya ini, siapapun orangnya terutama yang menyenangi seni akan berdecak dibuatnya, keberhasilannya dalam bergoyang banyak memukau penonton. Ia telah berjuang dari satu panggung ke panggung lainnya di pelosok Jawa Timur. Keinginannya untuk hijrah ke Jakarta memang sudah lama. Sekalipun telah melanglang ke Eropa, Amerika, dan Asia Tenggara, Inul belum puas sebelum menaklukkan Jakarta.

Kini ia boleh berbangga, karena goyangan "bor"-nya berhasil menembus Ibukota Jakarta, tempat bermukimnya para pemusik kelas atas. Kemunculannya menghebohkan dan namanya meroket hingga menyusul para pemusik kawakan lainnya. Selain berkat goyangannya, dia tak melupakan kerja keras manajernya, Del.

Atas kehebohannya ini masyarakat Kalimantan pun tak mau ketinggalan untuk menyaksikannya. Kyai Abah Guru Ijai, seorang tokoh kharismatis yang sangat dihormati masyarakat Kalimantan, mengundangnya untuk menghibur masyarakat Kalaimantan. Majalah Time yang berskala internasional pun telah menyediakan dua halaman untuk menceritakan kisah Inul sebagai pedangdut sensasional yang gayanya berbeda dari yang pernah ada.

Perubahan ini memang tak semudah orang membalikkan telapak tangan. Memperoleh hidup yang layak pasti menjadi dambaan semua orang. Untuk memperoleh kesuksesan itu orang harus bekerja keras melalui ketrampilan yang dimilikinya. Demikian pula halnya dengan Inul. Ia telah memperoleh buah dari jerih payahnya. Tuhan memang maha adil pada umatnya yang mensyukuri akan keberadaan yang ada pada dirinya.

Sebagai pecinta dangdut saya sangat kagum akan jerih payah Inul. Ia seorang pengabdi seni yang menggeluti bidangnya sejak usia kanak-kanak.

Hanya sangat disayangkan, selama ini banyak orang kurang memperhatikan jerih payah ini, sehingga dengan mudah memberi penilaian negatif terhadapnya. Bahkan H. Rhoma Irama selaku Ketua Umum Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI) menyatakan tak akan menemui Inul. Amat disayangkan pula jika pelopor yang menangkat derajat dangdut lewat lagu "Begadang" ini melarang Inul menyanyikan lagu-lagunya.

Menurut Oma, dengan penampilan Inul yang sedemikian rupa akan mengembalikan citra dangdut ke "kelas comberan".

Menurut saya, penilaian Oma Irama ini kurang bijaksana untuk diucapkan, terlebih oleh seorang yang mendapat julukan Raja Dangdut. Sedangkan Inul adalah generasi sesudahnya yang memerlukan banyak bimbingan dan arahan.

Hadapilah segala sesuatu dengan kepala dingin, alangkah baiknya jika hal ini dibicarakan bersama dengan para pemusik dangdut untuk membahas penampilan Inul, Anissa Bahar, Utut Permatasari, dan Ira Swara yang dianggapnya terlalu mengumbar erotisme dan sensualitas sehingga menghebohkan itu.

Suatu hal yang mustahil jika masalah ini tak dapat dipecahkan demi langgengnya kehidupan musik dangdut yang kini sudah dapat diterima berbagai kalangan. Rasanya sangat lucu ‘kan kalau hanya masalah goyangan sampai anggota DPR yang membahasnya?

Terima kasih.