HOME
NASIONAL
DUNIA
EKSKLUSIF
KIAT
MEGAPOLITAN
GOSIP
AGENDA
PROFIL
SURAT
   Indeks Surat
Image Image Image
Biaya Pembuatan SIM C Di Bekasi Kok Mahal, Ya?
(08-06-2005 | 16:02:32)
Image Image Image
Pembodohan Anak Bangsa
(16-07-2003 | 15:05:41)
Image Image Image
Mahasiswa di Depok Tak Ber-KTP
(23-06-2003 | 17:33:29)
Image Image Image
Jangan Percaya Harga Makanan di Ragunan
(08-06-2003 | 16:30:03)
Image Image Image
Tindak Anggota Polri Arogan
(--Kamis, 22 | ei 2003, 16:56:22 WI)
Image Image Image
Soal GAM, Pemerintah Harus Arif
(14-05-2003 | 19:50:18)
Image Image Image
Maju Terus Inul!
(--Jumat, 9 M | i 2003, 20:10:24 WIB)
Image Image Image
Pernyataan Oma Irama Tak Beralasan
(30-04-2003 | 16:31:18)
Image Image Image
Kecaman Oma Tidak Pada Tempatnya
(24-04-2003 | 16:19:45)
Image Image Image
Peron Stasiun KA Bagaikan Pasar Terbuka
(05-04-2003 | 12:33:29)
   CARI DATA
Image
Minggu, 19 November 2017 | 19:11:35 WIB
Image
Surat Terbuka
Image
Maju Terus Inul!
Erma - Bogor
Sungguh “terpaksa” aku menyanyi
Membawa suara jeritan hati
Sungguh aku malu tiada terkira
Menadahkan tangan meminta-minta
Karena terpaksa, ini kulakukan
Melalui lagu kuketuk hatimu
Mengharap tuan bermurah hati
dan yang kupinta hanya sekedar untuk makan


Demikian sekelumit bait lagu yang sengaja dikaitkan satu sama lain agar kisah perjalanan hidupnya tak terlupakan. Mungkin karena itulah dia yang sedang menikmati semua jerih payahnya merasa nama besarnya terusik oleh kehadiran “anak kemarin sore” yang berhasil “menggoyang” Jakarta.

Rupanya rasa shock yang diderita si anak karena ditegur si "bapak'rupanya telah membuat iba dan penasaran. Dalam hal boleh-tidaknya goyang si “anak kemarin sore” yang cukup menghebohkan itu hanya awamlah yang dapat menilai. Tak sedikit orang ternama sudah “menyuarakan” rasa belas kasihnya pada bocah ingusan yang semula dianggap hanya sebelah mata.

Menurut si anak ketika datang untuk bersilaturahmi, pada awalnya sang "bapak" memang biasa-biasa saja. Namun dalam pertemuan yang dibayangkannya akan mendapat siraman rohani yang menyejukkan ternyata “teramat sangat” menusuk hatinya.

Perkiraannya terhadap orang yang selama ini ia hormati ternyata meleset. Yah, acara teguran sang bapak yang dipancarluaskan dan banyak disaksikan orang membuat si anak sangat terpukul dibuatnya.

Sebelum si anak desa menginjakkan kakinya di kota yang banyak membesarkan para seniman, ia banyak menyaksikan hal serupa yang diperagakan para pendahulunya. Herannya mereka tak sampai ditegur. Sebaliknya, ia yang anak desa dimarahi habis-habisan di muka umum.

Kesan paling menonjol dari sikap yang tidak adil ini adalah kekhawatiran si "raja" akan kemapanan posisinya. Ia khawatir si anak desa akan mengacak-acak lahan yang sudah lama ia pupuk. Kekhawatiran semacam itu memang sangat manusiawi, tapi jangan terlalu ah!

Dan yang membuat orang bertanya-tanya, sekalipun telah ditegur, puluhan negara sudah menanti kehadirannya. Suatu bukti, ia memang hebat.

Inul, “ngebor”-mu menjadi taruhan untuk mengangkat kembali nama Indonesia yang beberapa waktu lalu hancur tercabik ledakan bom di Bali.

Saya hanya bisa berharap agar Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi melihat kenyataan ini. Sayang asset bangsa yang satu ini kalau tidak dibina dan ditangani secara serius.

Selamat untuk Inul, doa penggemarmu selalu menyertaimu !!!