HOME
NASIONAL
DUNIA
EKSKLUSIF
KIAT
MEGAPOLITAN
GOSIP
AGENDA
PROFIL
SURAT
   Indeks Surat
Image Image Image
Biaya Pembuatan SIM C Di Bekasi Kok Mahal, Ya?
(08-06-2005 | 16:02:32)
Image Image Image
Pembodohan Anak Bangsa
(16-07-2003 | 15:05:41)
Image Image Image
Mahasiswa di Depok Tak Ber-KTP
(23-06-2003 | 17:33:29)
Image Image Image
Jangan Percaya Harga Makanan di Ragunan
(08-06-2003 | 16:30:03)
Image Image Image
Tindak Anggota Polri Arogan
(--Kamis, 22 | ei 2003, 16:56:22 WI)
Image Image Image
Soal GAM, Pemerintah Harus Arif
(14-05-2003 | 19:50:18)
Image Image Image
Maju Terus Inul!
(--Jumat, 9 M | i 2003, 20:10:24 WIB)
Image Image Image
Pernyataan Oma Irama Tak Beralasan
(30-04-2003 | 16:31:18)
Image Image Image
Kecaman Oma Tidak Pada Tempatnya
(24-04-2003 | 16:19:45)
Image Image Image
Peron Stasiun KA Bagaikan Pasar Terbuka
(05-04-2003 | 12:33:29)
   CARI DATA
Image
Minggu, 19 November 2017 | 19:06:39 WIB
Image
Surat Terbuka
Image
Tindak Anggota Polri Arogan
Rasyid - Bogor
Melalui Website ini, saya ingin melaporkan bahwa pada hari Selasa tanggal 20 Mei lalu kami sedang berada di kawasan Tugu Kujang di jalan Pajajaran yang lebih ramai dari hari-hari biasanya.

Keramaian itu disebabkan adanya sekitar 300-an mahasiswa yang bergabung dengan buruh dan petani se Jawa Barat, yang baru melakukan long-march dari Bandung dengan tujuan Jakarta. Mereka melakukan aksi demo memperingati 5 tahun Reformasi Indonesia. Mereka berorasi seputar kegagalan duet pemimpin bangsa Mega Hamzah dalam menjalankan roda pemerintahan termasuk penanganan masalah keamanan di Aceh.

Karena dianggap tidak memiliki izin keramaian, petinggi Polresta Bogor meminta pimpinan aksi untuk membubarkan rombongan. Namun pimpinan rombongan tersebut, yang belakangan kami ketahui dari pemberitaan media massa bernama Khalid Zabidi (mahasiswa S2 Institut Teknologi Bandung - ITB), memperlihatkan izin rekomendasi yang diperolehnya dari Kapolwil Bogor.

Walau demikian Wakapolresta Bogor Kompol Rusdi tetap melarang dan mulai memaksa membubarkan rombongan mahasiswa, buruh, dan petani. Ironisnya lagi, Khalid sempat dipukuli oleh sekumpulan orang berpakaian preman yang menurut penglihatan masyarakat di lokasi adalah anggota serse dan intel Polresta Bogor. Khalid terlihat babak belur akibat pemukulan ini.

Atas peristiwa yang jarang-jarang terjadi di Kota Bogor ini, kami mempertanyakan, pantaskah polisi melakukan tindakan seperti itu terhadap mahasiswa dan anggota masyarakat? Bukankah mahasiswa dan masyarakat juga yang memperjuangkan terlepasnya polisi dari belenggu TNI dan militer!

Kepada para praktisi dan pakar hukum, advokat, maupun pemantau polisi (Police Watch) kami sungguh berharap adanya dukungan moril untuk menindaklanjuti aksi brutal polisi terhadap masyarakat yang dilakukan di muka umum dan merusak citra Kota Bogor.

Khusus kepada Kapolresta Bogor, kami juga ingin mempertanyakan, apakah tidak terbersit sedikit pun untuk menjaga ketertiban Kota Bogor tanpa melakukan tindakan brutal, apalagi terhadap mahasiswa dan masyarakat?

Apakah tindakan itu dilakukan atas dasar perintah Kapolri untuk mencegah mereka membawakan aspirasi rakyat ke ibukota tercinta Jakarta?

Tolong disadari, Tanpa Rakyat, Bangsa ini Bukanlah Apa--apa.